Thursday, February 28, 2013

Sapa Santri

Santri Pasca Mondok Di Pesantren


Banyak referensi mengenai kisah-kisah Santri Pasca mondok di Pesantren, terkadang ceritanya unik dan  bahkan ada yang irrasional. Diantaranya, mereka yang sering melakukan pelanggaran ketika di pesantren, ketika keluar dari pesantren berubah menjadi Bos Mafia di lingkungan tertentu, mereka yang sering ngawulo mbah yai (mengabdi kepada Kyai) kemudian menjadi orang yang dihormati di masyarakat, orang yang menjalankan warung makan mbah yai, kemudian menjadi pengusaha sukses di masyarakat, orang yang dahulu menjadi pengurus pesantren, kemudianmenjadi orang penting di organisasi masyarakat atau Pemerintahan. Ini artinya: kegiatan yang biasa dilakukan santri semasa di pesantren,biasanya akan menjadi pengalaman dan pendidikannya ketika terjun dimasyarakat kelak. Para alumni biasanya melakukan hal-hal yang sama atau bahkan melebihi kegiatan yang pernah dilakukannya ketika di pesantren sehingga tak jarang ketika mereka lulus hal-hal tersebut menjadi karakter dan ciri khas santri tersebut kelak.
Maka seyogyanya seorang santri haruslah membiasakan diri untuk berakhlakul karimah semenjak dini dengan dorongan uswatun khasanah (contoh yang baik) yang tercermin dari para asatidz sebagai tonggak terbentuknya pendidikan karakter di pondok pesantren tersebut, sehingga bi’ah khasanah (kebiasaan baik) tersebar dan membudaya di kalangan santri dengan sendirinya. Dan betapa indahnya jika tiap pondok pesantren melakukan hal-hal di atas sehingga ketika para alumnus pondok pesantren berada di tengah masyarakat, mereka telah terbiasa dengan karakter khas santri yang berakhlak baik dan mengajarkannya di masyarakat, dengan begitu sedikit demi sedikit akan dapat merubah karakteristik bangsa ini.
Kebiasaan santri memang sangat beragam yang tentunya berkutat pada dunia ilmiah, sejak bangun dari tidur sampai tidur kembali, bahkan dapat dikaitkan dengan hal-hal yang ilmiah, sebagai contoh guyonan yang mereka tuangkan dalam kamar, sekolah, ruang makan, bahkan sebelum tidur berasaskan pada hal yang berpendidikan. Maka pendidikan yang diterapkan ketika masih di pesantren seluruhnya adalah pendidikan karakter. Sebagai contoh, santri yang biasa mengajarsemasahidup di lingkunganpondokpesantren, kemudian pulangmakakemampuannya tersebut dapat digunakanuntuk mengajar ketika kembali ke masyarakat. Begitu juga santri yang mumpuni secara keilmuan dan menguasai manajemen pesantren, maka hal tersebut dapat dipergunakan untuk mengembangkan pesantren sendiri dengan mengikuti silabi pembelajaran berdasarkan pengalaman yang dilihat dan dirasakan ketika masih menjadi santri di pondok pesantren. Sehingga totalitas pembelajaran hidup sebenarnya telah ada dalam lembaga pendidikan pesantren pada umumnya, walaupun jika dilihat dari fisik dan akademik kalangan santri terkesan kolot namun pada hakikatnya mereka memiliki potensi yang tak kalah baik di banding dengan tamatan sekolah, bahkan banyak diantara santri dewasa ini telah membekali diri dengan ragam ilmu pengetahuan yang di ajarkan di sekolah pada umumnya.
Khusus santri-santri yang memiliki intelegensi yang mumpuni, hendaknya melanjutkan pendidikannya sesuai minat dan bakatnya.  Sebab, tidak semua santri yang belajar di pesantren akan menjadi kyai/pengasuh pondok pesantren. Perlu di sadari bahwa keberhasilan santri tidak diukur berdasarkan keberhasilan mereka ketika bisa menjadi kyai saja, namun keberhasilan itu dinilai dari asas kemanfaatannya bagi orang lain. Mereka yang bisa mengajarkan ilmu kepada banyak orang sama dengan berhasil, mereka yang menjadi pengusaha kemudianmenjadi donator bagi anak-anak yatim maka dapat dikategorikan sebagai orang yang berhasil.  Oleh karenanya, pesantren juga harus dijadikan sebagai agent of change untuk menuju perubahan yang lebih baik.
Oleh karenanya, tidak salah jika para santri paska mengenyam pendidikan di pesantrenharuslah diarahkan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi sesuai minat dan bakatnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan para alumni pesantren yang brilian tersebut mampu menjadi menjadi pemimpin yang memberi kemanfaatan dan kebaikan bagi banyak orang. sebagai contoh : santri bisa menjadi guru, penceramah, hakim, dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi orang lain.Itu semua dapat dicapai tentunya dengan cara melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, dan landasan dari itu semua berkat pendidikan yang ditanamkan dalam pondok pesantren yang penuh keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah Islamiyyah dan tentunya dengan uswatun hasanah dari Kyai dan para asatidznya. Dan pesantren sebagai agent of change harus mampu memotivasi dan mempersiapkan santri-santrinya agar mampu beramal sholeh dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat memberi manfaat dan berguna bagi masyarakat banyak. Sehingga keberhasilan santri tidak hanya sebagai pendakwah, namun juga dinilai dari kemanfaatannya bagi orang lain;
“Khoirukum anfa’uhum linnasi.”
Artinya: Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Keluarga sebagai faktor utama penunjang perkembangankarakteristiksantri, juga memiliki peranan yang lebih dominan dalam menjaga dan mengarahkan santri setelah lulus daripondok pesantren, hal ini dapat dilakukan dengan cara mengajak santri bermusyawarah untuk menentukan langkah selanjutnya dalam menapaki dunia yang lebih luas dengan berbagai macam karakter manusianya. Tentu,keluarga haruslah tetap menguatkan karakteristik santri agar tidak tergerus oleh arus globalisasi yang serba bebas dengan menguatkan nilai-nilai yang telah di dapat dari pondok pesantren dengan tetap membawa kebiasaannya selama di pondok kedalam lingkungan keluarga, agar supaya alumnus santri ini semakin terarah dan dapat menyongsong masa depannya kelak.
Semoga dengan niat yang baik, apa yang menjadi angan-angan tersebut dapat terealisasikan dan tidak sebatas utopia belaka, dan tidak dipergunakan untuk kepentingan dan kesenangan pribadi saja, melainkan dengan niatLillahita’ala dan untuk mempersembahkan kemanfaatan bagi orang lain.

By Nur M. Huri

No comments:

Post a Comment