Thursday, February 28, 2013

Santri Menulis



Teknik anchoring, untuk menjangkar semangat Anda

Pernahkah anda berpikir ketika melihat lampu merah kendaraan anda pasti berhenti. Dan saat lampu hijau semuanya jalan kembali. Ini semua berlangsung secara otomatis. Semua orang sudah mengetahuinya. Bila lampu merah melambangkan berhenti. Hijau melambangkan jalan. Dan kuning melambangkan mereka harus siap-siap untuk jalan. Ini dalam istilah NLP ( Neuro-Linguistic Programming )disebut dengan teknik anchoring. Dalam bahasa yang sederhananya kita terjangkar oleh suatu peristiwa. Sebagai contohnya Perisitwa di Traffic Light tadi.

     Anchor ada tiga jenis. Pertama, anchor secara visual atau melalui penglihatan. Pada saat anda melihat orang yang berbaju putih. Mungkin anda pasti berpikir orang tersebut perawat, suster atau dokter. Kedua, anchor secara audio dilakukan melalui suara atau bunyi-bunyian. Contoh sederhanya adalah bell sekolah. Pada saat bunyi bell, siswa pun secara otomatis sudah mengetahuinya dengan baik. Apakah saatnya masuk kelas, keluar main atau pulang sekolah? Semuanya sudah terekam di bawah sadarnya. Jenis yang terakhir adalah anchor secara kinestetik atau gerakan. Pernahkan anda mengetahui pada saat seseorang menepuk pundak anda. Baik itu pundak bagian kiri, ataupun kanan. Secara bawah sadar, bila ada orang yang melakukannya. Pasti mereka adalah orang dekat atau orang yang sangat anda sayangi. Atau pada saat anda menyuruh orang diam. Cukup dekatkan jari telunjuk ke mulut. Lakukan beberapa kali. Otomatis mereka tahu, anda menyuruh diam. Itu semua dilakukan secara alamiah.

      Pasti akan terbesit suatu pertanyaan dalam diri anda. Bagaimana melakukan anchoring yang baik dan tepat? Ini ada satu cara yang menurut penulis asik untuk di coba

Pertama, bayangkan pada saat anda benar sedang semangat atau percaya diri.
Kedua, bila sudah merasakan benar-benar semangat lakukan gerakan yang unik.
Ketiga, lakukan future pacing (
Kegiatan yang akan di lakukan)

Ada sebuah kisah tentang seseorang yang sedang melakukan kelas public workshop change your mindset. Dia meminta seorang peserta untuk mau jadi sukarelawan. Ternyata yang maju adalah seorang wanita. Dia  pun menanyakan kepadanya. ”Pernah mengalami kejadian yang membuat anda semangat dan percaya diri?”. Dia pun menjawab,”Pernah”. Baik. Silahkan duduk. Dan nyamankan dirimu. Relaks. Tarik nafas secara perlahan…….Dan buang secara perlahan juga….kemudian hitung dalam hati. Dimulai dari angka 1,2…..teruskan sampai angka yang membuat kamu nyaman.
Kemudian amati fisiologisnya (bahasa tubuh). Bila sudah merasa nyaman, baru lakukan sugesti berikutnya. ”Baik. Lihat persis kejadian yang membuat kamu semangat dan percaya diri…….Dengarkan suara-suara….baik suara dalam hatimu atau suara lain yang membuat kamu makin semangat dan percaya diri……..Rasakan sekarang….”. Teruskan amati fisiologisnya….
”Bila kamu sudah merasakan…..benar-benar semangat…….Lakukan suatu gerakan unik……. Boleh menggunakan anggota tubuhmu atau yang lain…. ”. Tidak beberapa lama kemudian. Diapun berteriak semangat…… Dan saya pun melihat dia mengenggam kedua tangannya dengan erat dan kuat. Saya pun melakukan validasi. ”Bila kamu menggenggam kedua tangan kamu dengan erat dan kuat Kamu menjadi lebih semangat dan percaya diri. Saya pun melihat wajahnya menjadi semangat……Oke….sekarang lepaskan genggaman tanganmu…. Wajahnya pun berubah……Baik sekarang genggam kedua tanganmu lagi…..wajahnya pun menjadi semangat kembali……” Saya melakukan ini beberapa kali untuk memastikan bahwa anchor sudah berlangsung dengan baik.
”Baik…..bila kamu down atau kurang percaya diri…..kamu cukup melakukan….dengan menggenggam kedua tanganmu dengan erat dan kuat….kamu menjadi semangat dan percaya diri. Diapun menggangukkan kepalanya. Pertanda dia setuju. Bangunkan secara perlahan.

Cerita di atas menceritakan seseorang yang membuat anchor memakai tahapan-tahapan tadi, mulai dari tahap 1 sampai tahap yang ke 3, saat anda membuat Anchor bisa melakukannya seorang diri tidak harus dengan orang lain. Anda cukup membuat gerakan unik yang membuat anda menjadi semangat kembali.

Bila anda sudah melakukan anhor sebaiknya langsung ditest. Setiap hari melakukan semakin bagus. Membuat anchor yang terbentuk semakin kuat. Bila anda tidak menggunakannya, maka anchor tersebut akan semakin lemah dan hilang. Terpaksa anda harus membuat anchor yang baru lagi.

     Oh, ya….bila melakukan gerakan sebaiknya yang unik. Biar anda sendiri yang tahu artinya. Jangan pernah melakukan gerakannya yang sama seperti orang lain. Misalnya bersalaman, jentik jari, tepuk tangan. Semakin unik gerakan anda semakin bagus.

Selamat melakukan anchor sesuai dengan
apa yang menurut anda unik

Smile asik
( KerApi EsEmA Al-Moen )                        
               

Opini Pendidikan



Kausalitas Orang tua dalam Dunia Pendidikan

Undang-Undang  Republik  Indonesia  nomor  20  tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan,  “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Sekolah sebagai pengemban pendidikan diharapkan bersama masyarakat bekerja sama dalam menyiapkan generasi bangsa yang beradab, berbudaya dan berkarakter sesuai amanah Undang-undang. Apabila implementasi Pendidikan Karakter telah terlaksana dalam perilaku dan tercapai di perilaku yang menunjukkan hal yang positif lingkungan sekolah dan di bawa dalam kehidupan sehari-hari, maka telah terbentuk lah nilai karakter bangsa.
Perilaku yang dikembangkan dalam indikator pendidikan budaya dan karakter bangsa bersifat progresif. Artinya, perilaku tersebut berkembang semakin kompleks antara satu jenjang kelas ke jenjang kelas di atasnya ( 1-3; 4-6; 7-9; 10-12), dan bahkan dalam jenjang kelas yang sama. Guru memiliki kebebasan dalam menentukan berapa lama suatu perilaku harus dikembangkan sebelum ditingkatkan ke perilaku yang lebih kompleks. Misalkan,”membagi makanan kepada teman” sebagai indikator kepedulian sosial pada jenjang kelas 1 – 3. Guru dapat mengembangkannya menjadi “membagi makanan”, membagi pensil, membagi buku, dan sebagainya.
Selanjutnya bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak. Sebagai orang tua harus memahami benar apa makna dari mendidik sehingga tidak berpendapat bahwa mendidik adalah melarang, menasehat atau memerintah si anak. Tetapi harus di pahami bahwa mendidik adalah proses memberi pengertian atau pemaknaan kepada si anak agar si anak dapat memahami lingkungan sekitarnya dan dapat mengembangkan dirinya secara bertanggung jawab. Proses memberi pengertian atau pemaknaan ini dapat melalui komunikasi maupun teladan/tindakan, contoh : jika ingin anak disiplin maka orang tua dapat memberi teladan kepada si anak akan hal-hal yang baik dan beretika atau orang tua menciptakan komunikasi dengan si anak yang dialogis dengan penuh keterbukaan, kejujuran dan ketulusan. Apabila kita mengedepankan sikap memerintah, menasehat atau melarang maka langsung atau pun tidak akan berdampak pada sikap anak yang bergaya otoriter dan mau menang sendiri. Kiranya orang tua dapat mengambil pesan moral dari sajak yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dengan judul  “Anak Belajar dari Kehidupannya”: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki / Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri / Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri / Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai / Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia akan belajar keadilan / Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan/ Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menghargai dirinya/ Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Ada hubungan kausal antara bagaimana orang tua mendidik anak dengan apa yang diperbuat anak. Atau ibarat nya apa yang orang tua tabor itulah yang nanti akan dituai. Peran orang tua dalam mendidik anak tidak dapat tergantikan secara total oleh lembaga-lembaga persekolahan atau institusi formal lainnya. Karena bagaimana pun juga tanggung jawab mendidik anak ada pada pundak orang tua. Secara pemahaman dan pelaksanaan peran orang tua hendak nya melakukan hal-hal sebagai berikut :
1.             Hindari mengancam, membujuk atau menjanjikan hadiah
Dalam mendidik anak jangan memakai cara membujuk dengan menjanjikan hadiah karena hal ini akan melahirkan ketergantungan anak terhadap sesuatu hal baru dia melakukan sesuatu
2.             Hindari sikap otoriter, acuh tak acuh, memanjakan dan selalu khawatir
Seorang anak akan dapat mandiri apabila dia punya ruang dan waktu baginya untuk berkreasi sesuai dengan kemampuan dan rasa percaya diri yang dimilikinya.
3.             Memahami bahasa non verbal
Memarahi anak yang melakukan kesalahan adalah sesuatu yang tidak efektif melainkan kita harus mendalami apa penyebab si anak melakukan kesalahan dan memahami perasaan si anak.
4.             Membantu anak memecahkan persoalan secara bersama.
Pada kondisi tertentu dibutuhkan keterlibatan kita sebagai orang tua untuk memecahkan masalah yang dihadapi si anak. Dalam hal membantu anak memecahkan persoalan anak, kita harus melakukannya dengan tetap menjunjung tinggi kemandiriannya.
5.             Menjaga keharmonisan dalam keluarga
Ayah dan Ibu sering bertengkar dan berselisih bahkan melakukan kekerasan di depan anak-anak, sehingga anak-anak mencontoh dengan bertindak tidak menghargai teman sebayanya atau melakukan kekerasan pula pada temannya.
Demikian beberapa hal yang mestinya dijadikan perhatian oleh sekolah dan para orang tua dalam mendidik anak-anaknya.Diakui bahwa hal tersebut di atas dapat ditambahkan dengan hal lain yang positif agar menjadi perbendaharaan pengetahuan dalam mendidik, namun yang terutama dari semua itu adalah orang tua harus “bagaimana menciptakan dan membangun komunikasi yang efektif” dengan anak. Karena hal ini akan secara langsung menjaga dan memelihara kedekatan secara emosional dengan anaknya sehingga dapat mencegah perilaku menyimpang dari si anak.

Oleh Ardian Novianto
Pengajar di SMA Al-Munawwariyyah Bululawang

Editorial

Menjadi Pribadi Yang lebih baik

Masih ingatkah kita pemberitaan tentang kasus bupati Garut laris menjadi sorotan publik, hampir disetiap media massa menyisakan kolom buat hal tersebut.Bukan berarti kita hanya ikut-ikutan mengkonsumsi berita tersebut kemudian bersumpah serapah kepada sang bupati tanpa alasan, melainkan haruslah mengikuti perkembangan berita dan menimbangnya kembali sebagai pembelajaran atau sebagai peringatan bagi kita karena dalam setiap peristiwa pasti ada hikmah di dalamnya. kita semua tahu betapa sangat sulitnya mencari publik figur yang kita inginkan, itu semua akibat dari kesalahan beberapa oknum tertentu dari kalangan artis, pejabat bahkan pendidik yang notabenenya sebagai public figure bagi masyarakat, namun malah menunjukkan perilaku-perilaku yang negatif dan tidak layak dilakukan oleh mereka.
Permasalahan yang sedang mencuat sebenarnya adalah dilema klasik masyarakat Indonesia,dan potret kelam bangsa yang beragama, sungguh sulit menghilangkan stempel negatif pejabat negeri ini,mulai dari kasus terbesar yang tak pernah kunjung sirna yakni korupsi, sampai penyalahgunaan kekuasaan, seperti yang dilakukan bupati Garut yang jelas melanggar Hukum serta norma-norma masyarakat,menikahi seorang gadis kemudian dalam waktu singkat menceraikannya, ditambah lagimenikah tanpa perizinan dari sang istri pertama, tentunya tindakan tersebut jelas melanggar norma yang berlaku di negara ini.
Namun, tindakan mengecam sampai melakukan demonstrasi yang berlebihan juga sebenarnya tidak mencerminkan bahwa kita semakin beradab.Tindakan ini sebenarnya akan sia-sia jika para elit politik di daerah tersebut hanya diam seribu bahasa tanpa memprosesnya secara hukum. Dan inilah potret instansi Negara kita yang terkesan lamban dalam menangani oknum pemerintahannya sendiri, sehingga banyak diantara rakyat ini beraksi dengan kehendak mereka sendiri dengan cara menghimpun kekuatan kemudian melakukan demonstrasi untuk dapat menyalurkan aspirasi mereka kepada anggota dewan atau pejabat tinggi setempat. Namun sekali lagi keadilan dan kesejahteraan rakyat yang berlaku di Negara ini masih saja sebagai isapan jempol semata dan inilah yang menyebabkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah negara ini makin hari bagaikan fatamorgana.
Sebagai rakyat pastinya mencari publik figur yang baik untuk dapatmemberikan kesejahteraan dan keadilan terhadap rakyatnya, dan membina negara yang semakin krisis kepercayaan terhadap pemerintahannya sendiri juga tidaklah mudah, jika pemerintah tidak didasari pada fundamental yang kuat dan bersih, dan rakyat yang mudah terprovokasi maka akankah Indonesia berdiri kokoh seperti dulu lagi. mengingat banyaknya oknum pejabat pemerintahan yang lalai dan tidak mementingkan rakyat di atas kepentingan dirinya, menjadikan demonstrasi adalah taktik paling  jitu bagi rakyat yang tak memiliki daya upaya dalam menyampaikan aspirasi mereka.
Seharusnya kita dapat mengambil Ibrah dari kisah khalifah Umar bin Khattab,pada saat seorang kakek yang beragama yahudi meminta keadilan terhadapnya atas ketidakadilan gubernur yang hendak menggusur rumahnya untuk pembangunan masjid di Mesir, khalifah hanya memberikan sebuah tulang unta yang digores dengan pedang pada bagian tengahnya dapat menjadikan sang gubernurmengurungkan niatnya, dari kisah diatasmenegaskan keadilan bagi rakyat lebih penting ketimbang harus memenangkan diri seorang yang berpengaruh.
Maka sebagai publik figur seharusnyamampu menjadi suri tauladan yang baik bagi masyarakat,  karena dengan perkembangan media serta arus informasi yang ada, menjadikan masyarakat semakin cerdas dalam memahami persoalan yang terjadi di negara tercinta ini.Cukuplah Garut sebagai korban, semoga menjadikan pelajaran berharga bagi kita bersama.

Monday, February 11, 2013

Kitab Akhlakul lilbaniin



Indahnya Mutiara dalam Untian Kata      

 Tak perlu diragukan lagi bahwa perilaku merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam setiap kehidupan manusia, perilaku manusia adalah penentu kemajuan dan kemunduran masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, bahkan dengan perilakulah, manusia layak dikatakan sebagai manusia dan tidaknya. Oleh karnanya setiap agama yang diturunkan oleh Allah(agama samawi) dan Islam khususnya sangat memperhatikan hal tersebut.
             Namun sungguh disayang ternyata kehidupan sebagian masyarakat saat ini telah jauh dari budi pekerti yang luhur. Orientasiuntuk hidup berfoya-foya, memuaskandiri-sendiri, dan memenuhi hawanafsu adalah faktor utama penyebab kemerosotannya. Akan tetapi pertolongan dari Allah akan selalu ada bagi hamba yang dikehendakinya disetiap waktu dan setiap tempat. Oleh karenanya senantiasa kita temukan ada orang-orang saleh yang dengan ikhlas mengabdikan diri untuk agama dan sesama(beramar ma’ruf dan nahi munkar) baik secara lisan maupun tulisan yang bertujuan agar kita semua hidup selamat didunia inidengan kehidupan yang bermartabat, aman dan santosa hingga akhirat kelak.
Salah satu figur orang saleh tersebut adalah Al-Ustadz ‘Umar bin Ahmad Barja, dengan salah satu karyanya yakni kitab yang berjudul “Al-Akhlaqu Lil-Banin”.Dalam kitab tersebut beliau memberikan 20 judul pembahasan tentang akhlaq diantaranya adalah definisi aklaq, Kewajiban kita terhadap Allah, hingga judul terakhir yakni kewajiban kita terhadap teman. Dalam setiap pembahasan kitabnyabeliau mengajak kita berfikir tentang apa yang menjadi titik pembahasan, kemudian menggiring logika dan pemahaman kita untuk berbuat dan bertindak yang sesuai dengan akhlaq. Bahkan menyertakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadist Nabi sebagai sumber rujukan yang tepat sehingga memberikan pemahaman pada kita bahwa beginilah berakhlaq yang benar menurut Islam.
Dilihat secara sekilas dalam setiap judul pembahasan kitab ini memang seolah tak hanya membahas tentang akhlaq, karena beberapa judul yang adajustru menyebut sebuah kisah orang-orang tertentu, seperti halnya cerita nabiIsmail as, Haiwah bin Syuraih, Dzar bin ‘Umar Al-Hamdani serta masih banyak lagi.Ada pula yang judul yang berkenaandengan kewajiban-kewajiban kita, seperti kewajiban seseorang terhadap Allah, saudara, kerabat dll.
Namun jika dipelajari dan dihayati seluruh isinya dengan seksama, maka kita akan temukan bahwa kitab ini tetap berorentasi pada pendidikan akhlaq. Justru dengan cara seperti inilah kitab ini terlihat cukup berbeda dengan kitab-kitab akhlaq lain seperti halnya kitab Adabul ‘alim wal muta’allim, Ta’limul muta’allim dan semacamnya.
Dari cara penyajian, kitab ini terlihat tidak monoton tentang akhlaqkarenadisertai dengan kisah-kisah teladan yang ada didalamnya didukung dengan bahasa yang cukup lugas dan mudah dimengerti membuat kitab ini sangat tepat untuk dibaca dan dipelajari bagi setiap pelajar dilembaga pendidikan seperti pondok pesantren dan sekolahan Islam di Indonesia.Menjadikan kitab ini sebagai materi yang diajarkan pada pelajar di Indonesia adalah pilihan tepat,karena kitab ini merupakan karya anak bangsa kita sendiri(Indonesia) yang tentunya secara bahasa dan penyampaian akan lebih mudah kita mengerti dan fahami dibandingkan dengan kitab yang ditulis ulama’ bangsa lain. Selain itu, kitab tersebutmemiliki isi pembahasan yang tentunya sesuai dengan karakter, linkungan, kultur, budaya, dan kebiasaan/adat-istiadat masyarakat Indonesia dengan kebinekaannya.
Sebagai contoh pembelajaran tentang toleransi antar umat beragama yang terdapat dalam kitab ini “tentang seorang pemuda non muslim(yahudi) yang menjalin komunikasi dan interaksi(mu’asyaroh) dengan baik bersama Rasulullah SAW”. Ini adalah sebuah percontohan yang sangat tepat untuk dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia yang memang harus berdampingan dengan pemeluk agama lain.
Pembelajaran tentang bersabar dan menghargai juga ada dalam sebagaimana yang telah dikisahkan dalam kitab ini tetanggaAl-Imam Abu Hanifah. Beliau memiliki seorang tetangga yang sangat jahat, namun sang imam selalu bersabar menghadapinya dan selalu mengucapkan salam bila bertemu dengannya, meskipun justru cacian dan hujatan yang didapat oleh sang imam. Saat sang imam ditanya alasan tentang kesabarannya, sang imampun menjawab dengan cukup singkat dan berdasar “karena dia tetangga saya yang memiliki hak untuk saya muliakan”. Disini kita bisa mengambil pelajaran  bagaimana mestinya kita hidup bersama dengan masyarakat sekitar kita yang mungkin memiliki kebiasaan kurang baik.
Pembaca yang budiman, sebenarnya dalam kitab ini masih banyak lagi memuat kisah pribadi tertentu dengan kesempurnaan akhlaqnya yang sangat perlu kita baca, ikuti, dan kita contohkan kepada keluarga dan masyarakat kitaguna memberikan pendidikan dan motivasi kita semua agar manjadi lebih baik dalam berbudi pekerti. Selanjutnya, untuk mencapai kebaikan dalam berperilaku kita memang membutuhkan keseriusan untuk berusaha menjadi lebih baik(berinovasi) hingga akhlaq tersebut benar-benar menjadi bagian dari pribadi kita yang dapat kita ajarkan kepada sesama lewat sebuah percontohan yang baik(uswatun hasanah), karena sebagaimana orang bijak berkata“Satu suri tauladan baik yang kita contohkan lebih berguna dan lebih bermanfaat dari pada sejuta nasehat”. Selamat membaca kitab tersebut dan semoga kita dapat manfaatnya. Amin...
Demikian sedikit informasi yang dapat kami sajikan semoga apa yang kami lakukan menjadi bagian dari pengamalan terhadap Al-Quran yang memerintahkan kita untuk saling bantu-membantu dalam kebaikan dan ketaqwaan. Kepada Al-Ustadz ‘Umar bin Ahmad Barja kami sampaikan banyak terimakasih atas keseriusannya dalam memperhatikan pendidikan akhlaq bagi para pelajar Indonesia yang merupakan tumpuan harapan dan cikal-bakal para pemimpin negri ini dimasa depan. Semoga Allah mencatat dan menerima amal saleh beliau dan menjadikan kitab tersebut bermanfaat didunia hingga akhirat. Amin... wallahu a’lam.